Evaluasi Gizi Protein dan Lemak

01 Mei 2012

GIZI DAN EVALUASI PANGAN
EVALUASI PROTEIN DAN LEMAK
oleh: Aulia Shabrina, Shelly Andrianty, Rodia Albike


PROTEIN
 A.            Protein
          Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti bahan makronutrien lainnya (karbohidrat, lemak), protein ini berperan lebih penting dalam pembentukan biomolekul daripada sumber energi. Namun demikian apabila organisme sedang kekurangan energi, maka protein ini dapat juga di pakai sebagai sumber energi. Keistimewaan lain dari protein adalah strukturnya yang selain mengandung N, C, H, O, kadang mengandung S, P, dan F

B.            Metode Evaluasi Gizi Protein
1.     Analisa protein dengan secara in vivo
          Protein adalah bagian dari semua dari sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh setelah air. Semua enzim, zat pembawa dalam darah, matriks, intraseluler dan sebagian besar hormone tersusun atas protein. Dalam membentuk protein jaringan dibutuhkan sejumlah asam amino dan tergantung pada macam asam amino sesuai dengan jaringan yang akan dibentuk. Asam amino ini didapat dari makanan sesudah diserap melalui darah dan sebagian disintesa dalam tubuh atau merupakan hasil katabolisme atau perombakan dari protein jaringan yang sudah rusak ( Auliana, R. 1999 ). Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.
Untuk menentukan kualitas protein suatu pangan dapat dilihat dari seberapa banyak protein tersebut dapat dicerna dan diserap oleh tubuh. Suatu protein yang mudah dicerna menunjukan bahwa jumlah asam amino yang dapat diserap dan digunakan tubuh, karena sebagian besar akan dibuang oleh tubuh bersama feses ( Muchtadi, 1989 ). Oleh sebab itu perlu diadakan analisis lebih lanjut mengenai daya cerna protein dari suatu bahan pangan. Pengukuran daya cerna protein ini menggunakan tikus, karena diasumsikan bahwa tikus putih memiliki kesamaan fisiologis dengan manusia. Dalam praktikum ini, ransum sumber protein yang diberikan kepada tikus adalah ransum rebon, tempe, casein, dan ransum non protein.
Evaluasi Nilai Gizi Protein in vivo dilakukan dengan cara biologis pada hewan uji (tikus putih, mencit, ayam dan manusia). Parameter nilai gizi protein yang dihitung secara in vivo adalah nisbah efisiensi protein, nisbi protein akhir, pemanfaatan protein bersih, nilai protein akhir, nisbi protein akhir dan nilai biologis protein.
Evaluasi menggunakan Tikus Percobaan. Terdapat lima macam “Basic Stock” tikus putih ( Albino Normay rat, Rattus Norvegicus ) yang biasa digunakan sebagai hewan percobaan di laboratorium, yaitu Long evans, Osborne Mendel, Shermen, Sprague Dewley dan Wistar.
Beberapa sifat karakteristik tikus percobaan adalah:
1. Noctural, berarti aktif pada malam hari, tidur pada siang hari
2. Tidak mempunyai kantung empedu ( gall bladder )
3. Tidak dapat mengeluarkan isi perutnya ( muntah )
4. Tidak pernah berhenti tumbuh, walaupun kecepatannya menurun setelah berumur 100 hari
          Zat – zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tikus hampir sama dengan manusia, yaitu karbohidrat yang terdiri dari pati, gula, dan selulosa. Lemak esensial ( terutama linoleat dan linolenat karena karbohidrat dapat disintesis dalam tubuhnya dari linoleat ). Bila kekurangan asam lemak esensial kulitnya bersisik, pertumbuhannya terhambat dan pada kasus berat dapat menimbulkan kematian ( Muchtadi.1989 ).
Protein asam amino esensial bagi tikus ada 10 macam, yaitu: lisin, histidin, triptofan, fenilalanin, leusin, isoleusin, treonin, methionin, valin dan arginin. Arginin sesungguhnya dapat disintesis dalam tubuh tikus, tetapi hanya cukup untuk pemeliharaan dan tidak cukup untuk pertumbuhan maksimum. Mineral atau elemen organik, terdiri dari makro elemen kalsium, fosfor, magnesium, kalium, natrium, chlor dan belerang. Sedangkan mikro elemen terdiri dari besi, tembaga, kobalt, mangan, selenium, iod, seng dan molibdenum (Muchtadi.1989).
Kandang tikus harus berlokasi pada tempat yang bebas dari suara ribut, dan terjaga dari asap industri atau polutan lainnya. Suhu optimum ruangan untuk tikus adalah 22 – 240 C dan kelembaban udara 50 – 60 %, dengan ventilasi yang cukup ( jangan ada jendela terbuka ). Cahaya harus diusahakan agar terdapat keadaan 12 jam gelap dan 12 jam terang (di daerah tropis seperti di Indonesia, hal ini tidak merupakan masalah). Ukuran kandang yang standar adalah 7×9, 5×7 inci, yaitu untuk 1 ekor tikus. Kandang harus terbuat dari bahan yang tidak mudah berkarat. Tempat makanan harus dibuat cukup besar untuk “ad litum feeding”. Demikian juga tempat minum, harus mudah dicapai oleh tikus; botol tempat air minum harus dibersihkan setiap 1 minggu sekali ( Muchtadi.1989 ).
Dalam penggunaan tikus sebagai hewan percobaan, harus diperhatikan penanganannya, tikus tidak boleh ditangani dengan meggunakan alat, artinya harus dipegang dengan tangan dan jangan dipegang dengan ekornya. Tikus harus dipegang dengan cara menempatkan telapak tangan pada punggungnya, ibu jari serta telapak tangan untuk memegang kaki – kaki depan dibawah lehernya ( Muchtadi. 1989 ).
Umumya yang digunakan adalah tikus – tikus yang baru disapih (umur ± 21 hari ). Sebelum percobaan dimulai harus dilakukan masa adaptasi selama 4 – 5 hari untuk membiaskan tikus pada lingkungan laboratorium. Selain itu, pada masa adaptasi ini dapat digunakan pengamatan apakah tikus dapat terus digunakan dalam percobaan ( tidak sakit ) ( Muchtadi. 1989 ).
Pada masa adaptasi ini biasanya diberikan “ semi syntetic diet “ atau ransum yang digunakan sebagai kontrol, yaitu kasein atau laktalbumin sebagai sumber proteinnya, dicampur dengan bahan – bahan lain (karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral).Bahan – bahan makanan tersebut hanya boleh dicampurkan apabila akan digunakan dan untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan akibat pengaruh fisik, kimia atau mikrobiologis. Sebaiknya bahan –bahan tersebut disimpan pada suhu 4o C didalam refrigerator (Muchtadi.1989).
·  Penentuan PER ( Protein Efficiency Ratio ) dan NPR ( Net Protein Ratio )
PER yang dikembangkan oleh Osborne, Mendel, dan Ferry pada tahun 1919 adalah prosedur evaluasi nilai gizi protein yang paling banyak digunakan. Bahkan juga telah diterima sebagai metode resmi FDA ( Food and Drug Administration, USA ) dalam penentuan mutu protein untuk tujuan “Nutrition Labelling”. Prosedur yang digunakan untuk penetuan PER adalah metode yang terdapat dalam AOAC ( 1984 ).
          PER adalah suatu pengujian 28 hari dengan kasein ANRC ( Animal Nutrition Research Council ) sebagai protein reverensi. Berat tikus dan konsumsi ransum harus diukur secara berkala ( umumnya berat badan tikus tiap 2 hari, sedangkan konsumsi ransum diukur tiap hari ). Tikus harus diberi kandang masing – masing ( 1 ekor dalam 1 kandang ) dan diberi ransum serta air minum ad libitum yang berarti tikus – tikus tersebut diberi keleluasaan kapan saja mereka mau makan dan minum serta jumlahnya tidak dibatasi.
Perhitungan PER dilakukan dengan menggunakan rumus :
Þ      Pertambahan Jumlah BB
Þ      Jumlah Protein yang Dikonsumsi
          Prosedur PER yang ditetapkan oleh AOAC ini mempunyai beberapa masalah, antara lain adalah komposisi ransum. Dimana hal ini banyak dimodifikasi disesuaikan dengan ketersediaan bahan – bahan ditempat si peneliti. Telah diteliti bahwa yang paling berpengaruh terhadap nilai PER adalah kadar protein dalam ransum. Oleh karena keseragaman ditetapkan bahwa kadar protein ransum adalah 100 %.
          NPR ( Net Protein Ratio ) dikembangkan oleh Bender dan Doel pada tahun 1957 dengan tujuan untuk memecahkan masalah – masalah teoritis yang terdapat pada PER. Dalam penentuan NPR, baik ransum maupun persyaratan tikus yang digunakan sama dengan yang terdapat pada penentuan PER. Bedanya adalah pada NPR ditambahkan 1 grup tikus yang diberi ransum non protein dan percobaan hanya dilakukan selama 10 hari.
Þ           NPR dihitung dengan menggunakan rumus :
         
          Konsumsi protein uji
          Penurunan berat dihitung sebagai angka rata – rata penurunan berat badan dari grup tikus yang menerima ransum non protein. NPR dihitung untuk tiap – tiap ekor tikus dan nilai rata – ratanya dihitung untuk tiap grup. Selanjutnya nilai NPR rata – rata tersebut dinyatakan sebagai persentase dari nilai NPR kasein sebagai grup kontrol.

1.   Analisa protein dengan secara in vitro
Analisa protein secara in vitro dilakukan secara kimiawi, mikrobiologis dan enzimatis. Analisis kimia dilakukan untuk mengetahui kadar protein, dan komposisi asam amino esensial (skor kimia). Analisis biokimia dilakukan untuk mengukur ketersediaan lisin, daya cerna, nisbah efesiensi protein (PER). Nilai kimia protein pangan ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

          Daya cerna protein menentukan mutu protein karena menunjukan kemudahan protein untuk dihidrolisis menjadi asam amino pembentuknya. Daya cerna dapat dinilai secara in vitro dengan mnggunakan berbagai jenis enzim, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

 LEMAK
A.            Lemak
          Lemak merupakan Salah satu senyawa organik golongan ester yang banyak terdapat dalam tumbuhan, hewan, atau manusia dan sangat berguna bagi kehidupan manusia Lemak yang pada suhu kamar berbentuk cair disebut minyak, sedangkan istilah lemak biasanya digunakan untuk yang berwujud padat. Lemak umumnya bersumber dari hewan, sedangkan minyak dari tumbuhan. Beberapa contoh lemak dan minyak adalah lemak sapi, minyak kelapa, minyak jagung, dan minyak ikan.

B.            Jalur pengangkut lemak dalam darah
          Lemak dalam darah diangkut dengan dua cara, yaitu melalui jalur eksogen dan jalur endogen.
1. Jalur eksogen
          Trigliserida & kolesterol yang berasal dari makanan dalam usus dikemas dalam bentuk partikel besar lipoprotein, yang disebut Kilomikron. Kilomikron ini akan membawanya ke dalam aliran darah. Kemudian trigliserid dalam kilomikron tadi mengalami penguraian oleh enzim lipoprotein lipase, sehingga terbentuk asam lemak bebas dan kilomikron remnan. Asam lemak bebas akan menembus jaringan lemak atau sel otot untuk diubah menjadi trigliserida kembali sebagai cadangan energi. Sedangkan kilomikron remnan akan dimetabolisme dalam hati sehingga menghasilkan kolesterol bebas.
          Sebagian kolesterol yang mencapai organ hati diubah menjadi asam empedu, yang akan dikeluarkan ke dalam usus, berfungsi seperti detergen & membantu proses penyerapan lemak dari makanan. Sebagian lagi dari kolesterol dikeluarkan melalui saluran empedu tanpa dimetabolisme menjadi asam empedu kemudian organ hati akan mendistribusikan kolesterol ke jaringan tubuh lainnya melalui jalur endogen. Pada akhirnya, kilomikron yang tersisa (yang lemaknya telah diambil), dibuang dari aliran darah oleh hati. Kolesterol juga dapat diproduksi oleh hati dengan bantuan enzim yang disebut HMG Koenzim-A Reduktase, kemudian dikirimkan ke dalam aliran darah.


2. Jalur endogen
          Pembentukan trigliserida dalam hati akan meningkat apabila makanan sehari-hari mengandung karbohidrat yang berlebihan. Hati mengubah karbohidrat menjadi asam lemak, kemudian membentuk trigliserida, trigliserida ini dibawa melalui aliran darah dalam bentuk Very Low Density Lipoprotein (VLDL). VLDL kemudian akan dimetabolisme oleh enzim lipoprotein lipase menjadi IDL (Intermediate Density Lipoprotein). Kemudian IDL melalui serangkaian proses akan berubah menjadi LDL (Low Density Lipoprotein) yang kaya akan kolesterol. Kira-kira ¾ dari kolesterol total dalam plasma normal manusia mengandung partikel LDL. LDL ini bertugas menghantarkan kolesterol ke dalam tubuh. Kolesterol yang tidak diperlukan akan dilepaskan ke dalam darah, dimana pertama-tama akan berikatan dengan HDL High Density Lipoprotein). HDL bertugas membuang kelebihan kolesterol dari dalam tubuh. Itulah sebab munculnya istilah LDL-Kolesterol disebut lemak “jahat” dan HDL-Kolesterol disebut lemak “baik”. Sehingga rasio keduanya harus seimbang.
          Kilomikron membawa lemak dari usus (berasal dari makanan) dan mengirim trigliserid ke sel-sel tubuh. VLDL membawa lemak dari hati dan mengirim trigliserid ke sel-sel tubuh. LDL yang berasal dari pemecahan IDL (sebelumnya berbentuk VLDL) merupakan pengirim kolesterol yang utama ke sel-sel tubuh. HDL membawa kelebihan kolesterol dari dalam sel untuk dibuang. 

C.             Jenis-Jenis Lemak
·       Saturated Fat (Lemak Jenuh)
          Lemak jenuh berpotensi meningkatkan kadar kolesterol darah, terutama LDL. Tidak disarankan mengonsumsi lemak jahat ini berlebihan. Lemak jenuh ditemukan pada daging merah, keju, mentega, minyak kelapa dan minyak kelapa sawit. Sebagian besar lemak jenuh cenderung memadat jika diletakkan pada suhu kamar, kecuali beberapa jenis minyak tropis.
·       Kolesterol 
Kolesterol merupakan lemak jahat bila terlalu banyak di tubuh. Kolesterol dapat mengerak di pembuluh darah yang dapat meningkatkan risiko jantung koroner. Makanan dari sumber hewani banyak mengandung lemak ini. Seperti lobster, udang, hati, telur, daging, dan produk susu.
Kolesterol diperlukan oleh tubuh antara lain untuk: (a) sintesis asam/garam empedu yang diperlukan untuk proses pencernaan lemak atau minyak, (b) sintesis vitamin D dan  hormon steroid, (c) sebagai komponen membran sel.
·       Trans Fatty Acids (Asam Lemak Trans)
Asam lemak trans adalah lemak tak sehat yang merupakan lemak sintesis dari pengolahan makanan untuk meningkatkan keawetan. Lemak ini dapat meningkatkan kolesterol dalam darah. Sebaiknya hindari makanan seperti snack, gorengan, margarine, dan minyak-minyak sayur tertentu untuk menghindari lemak trans.
          Asam lemak trans dibentuk jika minyak nabati dihidrogenasi untuk mengubahnya dari cair menjadi semi padat agar lebih menyerupai lemak hewani sehingga penerimaan konsumen meningkat dan juga untuk menurunkan kerentanan teroksidasi. Asam elaidat, asam lemak trans C18 dengan satu ikatan rangkap pada C9 (9 trans-18:1), dan isomernya merupakan asam lemak trans terbanyak pada produk pangan.
          Beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan dalam mengevaluasi nilai biologis lemak suatu bahan pangan, antara lain:
          1. kandungan asam lemak esensial yang dapat dimanfaatkan tubuh
          2. potensinya memperbaiki profil lipid darah
          3. potensi aterogeniknya (pemicu terjadinya aterosklerosis
·       Polyunsaturated Fat (Lemak Tak Jenuh Ganda)
          Lemak ini membantu menurunkan total kolesterol dalam darah, terutama LDL. Jika ingin mengonsumsi lemak ini, bisa ditemukan pada ikan,  seafood, minyak safflower (carthamus tinctorius),  dan minyak sun flower. 
·       Monounsaturated Fat (Lemak Tak Jenuh Tunggal)
          Lemak ini membantu mengurangi keberadaan lemak jahat dalam darah, seperti kolesterol. Dengan mengonsumsi lemak ini, kadar HDL akan naik dan LDL turun. Sehingga, baik untuk dikonsumsi demi kesehatan. Jenis makanan yang mengandung lemak ini adalah minyak zaitun, minyak canola peanut oil, daging, ikan, unggas, dan alpukat.
·      Asam lemak esensial
          Asam lemak esensial adalah asam lemak yang tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga diperlukan asupan dari luar (pangan/suplemen). Yang termasuk dalam asam lemak esensial adalah asam linoleat (LA) dan asam linolenat (LNA). Asam-asam lemak tidak jenuh tersebut disebut esensial karena diperlukan untuk mencegah beberapa abnormalitas pada kulit serta dalam pertumbuhan dan reproduksi.  Asam lemak esensial diperlukan untuk memelihara permeabilitas dan fragilitas kapiler yang normal pada tikus. Pengurangan asam lemak esensial dalam ransum menyebabkan perubahan morfologis dan metabolis pada banyak organ dari berbagai jenis hewan.
·      Asam lemak omega
          Asam lemak omega adalah asam lemak tidak jenuh atau asam lemak yang memiliki ikatan rangkap.  kadangkala diganti dengan simbol ’N”. Berdasarkan posisi ikatan rangkap pertama yang dihitung dari ujung metil (-CH3), maka asam lemak omega dikelompokkan menjadi :
o asam lemak omega 3, jika ikatan rangkap berada pada atom C no.3 dari ujung metil
o asam lemak omega 6, jika ikatan rangkap berada pada atom C no.6 dari ujung metil
o asam lemak omega 3, jika ikatan rangkap berada pada atom C no.9 dari ujung metal

D.            Metode Evaluasi Gizi Lemak
          Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi nilai biologis lemak, antara lain:
1.   Bilangan peroksida
          Pengukuran angka peroksida pada dasarnya adalah mengukur kadar peroksida dan hidroperoksida yang terbentuk pada tahap awal reaksi oksidasi lemak. Bilangan peroksida yang tinggi mengindikasikan lemak atau minyak sudah mengalami oksidasi, namun pada angka yang lebih rendah bukan selalu berarti menunjukkan kondisi oksidasi yang masih dini. Angka peroksida rendah bisa disebabkan laju pembentukan peroksida baru lebih kecil dibandingkan dengan laju degradasinya menjadi senyawa lain, mengingat kadar peroksida cepat mengalami degradasi dan bereaksi dengan zat lain.
          Bilangan peroksida dinyatakan dengan rumus perhitungan sebagai berikut:

 
2.   Bilangan TBA
          Asam 2-tiobarbiturat (TBA) bereaksi dengan malonaldehid membentuk warna merah.  Malonaldehid adalah produk degradasi lipid teroksidasi.  Pengukuran TBA sering digunakan indicator kerusakan lanjut dari oksidasi lemak atau minyak. Perhitungan TBA dalam sampel minyak/lemak dapat ditentukan dengan metode AOCS method cd 19-90 dan metode Tarladgis (1960).
·         Rumus perhitungan Bilangan TBA dengan Metode AOCS method cd 19-90 :
          C  = Konsentrasi malonaldehis (
          B  = Absorbansi sampel dikurangi absorbansi blanko
          W = Berat sampel (g)
·         Rumus perhitungan Bilangan TBA dengan Metode Tarladgis (1960)
          TBA = Jumlah malonaldehid 9g0 per kilogram sampel
          A = Absorbansi.

3. Bilangan iod
          Bilangan iod menggambarkan derjat ketidakjenuhan lemak/minyak. Asam-asam lemak tidak jenuh pada minyak/lemak mempunyai kemampuan mengabsorpsi sejumlah iod, terutama bila dibantu dengan suatu ’carrier’ seperti iodin klorida atau iodin bromida, membentuk suatu senyawa yang jenuh. Jumlah iod yang diabsorpsi menunjukkan ketidak-jenuhan lemak/minyak.
Bilangan iod = jumlah garam iodium yang mengadisi 1009 lipid
          Vb= Volume titrasi blanko
          Vs = Volume titrasi sampel
          N = Normalitas
          W = Berat sampel (g)

4.   Kadar asam lemak trans dan asam lemak esensial
          Asam lemak mengandung energi tinggi (menghasilkan banyak ATP) Diet rendah lemak dilakukan untuk menurunkan asupan energi dari makanan. Asam lemak tak jenuh dianggap bernilai gizi lebih baik karena lebih reaktif dan merupakan antioksidan di dalam tubuh. Posisi ikatan ganda juga menentukan daya reaksinya. Semakin dekat dengan ujung, ikatan ganda semakin mudah bereaksi. Karena itu, asam lemak Omega-3 dan Omega-6 (asam lemak esensial) lebih bernilai gizi dibandingkan dengan asam lemak lainnya.
          Essential Fatty Acid (EFA) atau sering disebut asam lemak esensial, merupakan lemak penting yang dibutuhkan oleh tubuh yang harus diperoleh dari makanan. Istilah ini mengacu pada jenis asam lemak yang dibutuhkan dalam proses biologis dan bukan yang hanya berfungsi sebagai bahan bakar.
3.   Profil lipid darah (total kolesterol, trigliserida, HDL, LDL)
          Lipid darah meliputi kadar trigliserida (TG), kadar total kolesterol (TK), kadar HDL dan kadar LDL. Kadar TG, TK dan HDL pada plasma/serum dapat diukur dengan menggunakan kit reagen komersial. Kit komersial berisi sejumlah enzim-enzim spesifik yang mengubah substrat menjadi kromofor, sehingga kadarnya dapat diukur dengan spektrofotometri.
          Kadar kolesterol total diukur dengan metode CHOD-PAP dan menggunakan pereaksi kit. Kolesterol diukur setelah dihidrolisis dan dioksidasi secara enzimatis. Kolesterol ester + H2O kolesterol esterase kolesterol + asam lemak kolesterol + O2 kolesterol oksidase kolesten-3-one + H2O2. 2 H2O2 + fenol+ 4-aminoantipyrine peroksidase quinoneimine + 4 H2O.
          Trigliserida ditentukan setelah hidrolisis enzimatis dengan lipase. Trigliserida + H2O lipase gliserol + asam lemak Gliserol + ATP gliserol kinase gliserol-3-fosfat + ADP Gliserol-3-fosfat + O2 gliserol-3-fosfat oksidase dihidroksiaseton fosfat + H2O2 2H2O2 + 4-aminofenazon + 4.
          Pengukuran HDL dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan presipitasi terhadap lipoprotein densitas rendah (LDL dan VLDL) dan kilomikron. Presipitasi dilakukan dengan penambahan asam fosfotungstat dan kehadiran ion magnesium (MgCl2). Setelah sentrifugasi, HDL dalam supernatan diukur menggunakan pereaksi kit yang sama dengan pengukuran total kolesterol (CHOD-PAP).
          Teknik yang paling banyak digunakan oleh laboraturium klinik untuk mengukur kadar LDL pasien yaitu dengan menggunakan formula Friedewald sebagai berikut:
Kadar LDL = Total kolesterol – HDL – TG/5 diasumsikan bahwa TG/5 merupakan kadar VLDL. Perhitungan Indeks Aterogenik (IA) Indeks aterogenik mengindikasikan besarnya potensi terjadinya aterosklerosis. Rumus Indeks Aterogenik (IA ) = Total kolesterol – HDL HDL.
          6.           Kadar TBARS menunjukkan tingkat oksidasi lemak
          7.           Pengujian daya hipokolesterolemik in vitro
          Sebelum diperlakukan, hewan percobaan dibuat hiperkolesterolemia terlebih dahulu dengan cara pemberian kolesterol dalam ransum dan dicekok PTU (Propil Tiourasil) sebanyak 2 mg/kg BB/hari.  Kondisi hiperkolesterolemia juga dapat dicapai dengan pemberian asam kolat atau turunannya di dalam ransum bersamaan dengan kolesterol (tanpa PTU). Pemantauan kadar kolesterol serum dilakukan dengan mengambil sampel darah dari ujung ekor tikus. Setelah kondisi hiperkolesterolemia tercapai, hewan percobaan dikelompokkan untuk diberi perlakuan. Pemberian perlakuan (sampel uji) dilakukan hingga kadar kolesterol serum salah satu kelompok mencapai nilai seperti semula atau normal yaitu sekitar 60-70 mg/dL. Sebagai kelompok kontrol positif adalah kelompok hiperkolesterolemia yang tidak diberi sampel uji. Di akhir perlakuan, tikus dieutanasi  untuk dianalisis profil  lipida  darahnya menggunakan kit, yang meliputi kadar total kolesterol (TK),  High Density Lipoprotein (HDL), dan trigliserida (TG), serta  penghitungan  Low Density Lipoprotein (LDL) dan indeks aterogenik (IA). Pengujian daya hipokolesterolemik juga dapat dilakukan tanpa membuat kondisi hiperkolesterolemia terlebih dahulu. Model pengujian seperti ini digunakan untuk mengeavaluasi kemampuan hipokolesterolemik melalui kemampuan menahan penyerapan kolesterol. Dalam model ini, sampel uji diberikan bersamaan dengan pemberian kolesterol, kemudian dilakukan pengukuran kadar lipid darah selama perlakuan. 
          8.           Pengujian kapasitas pengikatan asam empedu atau kolesterol in vitro
          Untuk melihat adanya kapasitas pengikatan asam empedu atau kolesterol, maka sampel uji diinkubasi bersamaan dengan sejumlah asam empedu atau kolesterol. Selama inkubasi dilakukan penambahan enzim-enzim pencernaan (pepsin, tripsin, pankreatin danlipase) sehingga menyerupai kondisi pencernaan. Di akhir proses inkubasi, dilakukan sentrifugasi dan selanjutnya pengukuran kadar asam empedu atau kolesterol pada bagian supernatan.  Rendahnya kadar asam empedu atau kolesterol pada supernatan menunjukkan kemampuan sampel uji mengikat asam empedu atau kolesterol. Kadar asam empedu atau kolesterol dapat diukur dengan menggunakan kit pereaksi.  Sebagai kontrol untuk dapat digunakan kolestiramin (pengikat asam empedu) dan serat oat (pengikat kolesterol).
          9.           Analisis Kadar Kolesterol dengan metode Liebermann-Buchard
          Ke dalam tabung sentrifus 15 ml diisikan 12 ml campuran alkohol-eter, kemudian dimasukkan 0.01 g sampel padat, diaduk perlahan sampai homogen.  Tabung ditutup rapat dan dikocok kuat selama 1 menit dengan vortex.  Tabung disentrifugasi selama 3 menit dan supernatannya dipindahkan ke dalam gelas piala ukuran 50 ml lalu diuapkan di atas penangas mendidih hingga kering.  Residu kering ditambahkan kloroform 2-2,5 ml dan dikocok perlahan agar  larut.  Ekstrak dipindahkan secara kuantitatif dan ditepatkan menjadi 5 ml dengan kloroform.  Kemudian ditambahkan 2 ml asetat anhidrida dan 0.1 ml asam sulfat pekat, dan dikocok.  Tabung disimpan di ruang gelap selama 15 menit dan diukur absorbansinya pada 420 nm.


 DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Auliana, R. 1999. Gizi dan Pengolahan Pangan. Yogyakarta : Adicita
Muchtadi, D. 1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Bogor: Departemen Pendidikan dan
Nasution, Amini dan Damayanti Evy 2008..Ilmu Gizi Dasar: Institut Pertanian Bogor
Nutrition: Science and Applications, 2nd edition, edited by L. A. Smaolin & M. B. Grosvenor. Saunders College Publishing, 1997
Raharjo, S., 2006. Kerusakan Oksidatif pada Makanan. Gadjah Mada University Press.
          Yogyakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Hi ! feel free to comment ya !

Blog contents © shabrina 2010. Blogger Theme by Nymphont.